1.
Anemia
a. Pengertian
Anemia adalah keadaan
dimana terjadi kekurangan darah merah dan menurunnya hemoglobin kurang dari 9,5
gr% dalam tubuh ibu hamil (Hb normal > 11 gr%) (Tarwoto, dkk, 2007).
Anemia gizi
adalah keadaan kadar hemoglobin lebih rendah dari nilai normal menurut umur,
jenis kelamin, berat badan karena kekurangan satu atau lebih bahan-bahan
nutrisi essensial tanpa memandang penyebab kekurangannya (Ratna Dewi
Pudiastuti, 2012).
b. Etiologi
Menurut Pudiastuti (2012) penyebab anemia adalah Rusaknya
butir darah merah, gangguan pembentukan darah akibat beberapa bahan essensial
seperti kekurangan zat besi, vitamin B kompleks, vitamin C, asam folat dan kehilangan darah baik yang
akut maupun yang kronis (perdarahan).
Menurut Tarwoto (2007)
penyebab anemia adalah genetik, kekurangan nutrisi, perdarahan, infeksi
seperti hepatitis dan malaria, obat-obatan dan zat kimia, penyakit kronis
seperti penyakit ginjal/hati dan infeksi kronis, efek fisik seperti trauma dan
luka bakar.
Menurut Nugraheny (2010) pada umumnya anemia disebabkan
oleh kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet seperti daging,
kacang-kacangan, sayuran, kehilangan darah yang banyak pada persalinan yang
lalu, haid, penyakit kronik seperti tuberculosis, cacing usus dan malaria.
c. Klasifikasi Anemia
Menurut
Tarwoto (2007) klasifikasi anemia dalam kehamilan yaitu :
1) Anemia Defisiensi Besi
Anemia
defisiensi besi merupakan jenis anemia terbanyak didunia, terutama pada negara
miskin dan berkembang. Penyebabnya adalah suplai besi kurang dalam tubuh.
Kurangnya besi berpengaruh dalam pembentukan hemoglobin sehingga konsentrasinya
dalam sel darah merah berkurang, hal ini akan mengakibatkan tidak adekuatnya
pengangkutan oksigen keseluruh jaringan tubuh. Pengobatannya yaitu pemberian
diet tinggi zat besi, atasi penyebab seperti cacingan dan perdarahan, pemberian
preparat zat besi seperti sulfas fero-sus (dosis : 3 x 200 mg), ferro glukonat
3 x 200 mg/hari atau diberikan secara parenteral jika alergi dengan obat
peroral 250 mg Fe (dosis : 3 mg/kg BB) dan iron dextran mengandung Fe 50 mg/ml
dengan IM.
2) Anemia Megaloblastik
Penyebab
anemia megaloblastik adalah kurang vitamin B 12, kurang asam folik. Pengobatannya
yaitu diet nutrisi dengan B 12 dan asam folat, berikan asam folat 5 mg/hari
selama 4 bulan, vitamin B 12 3 x 1 tablet per hari, sulfat ferosus 3 x 1 tablet
per hari, pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat
diberikan transfusi darah.
3) Anemia Hipoplastik
Penyebab
anemia hipoplastik adalah hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah
merah baru. Pengobatannya yaitu pengobatan infeksi seperti jamur dan bakteri,
pendidikan kesehatan untuk mencegah infeksi. Dengan pengobatan mungkin tidak
memuaskan, mungkin pengobatan yang paling baik yaitu transfusi darah, yang perlu
sering diulang.
4) Anemia Hemolitik
Disebabkan
oleh penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.
Pengobatannya yaitu pencegahan faktor resiko, cairan yang adekuat, pendidikan
kesehatan dan transfusi darah yang berulang merupakan pengobatan yang paling
baik.
d. Patofisiologi
Pada anemia diketahui bahwa
rendahnya Hb secara langsung juga mempengaruhi kondisi penderita, dimana tanda
dan gejala tersebut terutama terjadi pada anemia defisiensi yang berat dan
berkepanjangan. Pada gilirannya ini akan mengganggu metabolisme enzim intrasel
yang memerlukan besi (disfungsi enzim) yang kemudian berperan pada stamina yang
menurun, kebingungan dan depresi. Komplikasi terakhir ini ternyata terjadi
melalui mekanisme yang independen dari anemia itu sendiri (Purwita W. Laksmi,
dkk, 2008).
Setiap ibu hamil akan mengalami
hemodilusi. Hemodilusi adalah pengenceran darah untuk mengatasi pengentalan
darah. Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologis dalam
kehamilan dan bermanfaat bagi wanita dan dapat meringankan beban kerja jantung
yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil yang disebabkan oleh
peningkatan cardic output akibat hipervolemia (volume darah bertambah banyak), kerja
jantung kebih ringan apabila viskositas darah rendah sehingga tekanan darah
tidak naik. Bertambahnya darah dalam kehamilan mulai sejak kehamilan umur 10
minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan umur 32-36 minggu (Proverawati,
2011).
e. Derajat anemia
Departemen
Kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai berikut :
1)
Anemia ringan
Jika kadar Hb 8 gr% - < 11gr%.
2)
Anemia
sedang
Jika
kadar Hb 5 gr% - < 8 gr%.
3)
Anemia
berat
Jika kadar Hb < 5 gr%.
f. Tanda dan gejala.
Menurut
Purwita W. Laksmi (2008) tanda dan gejala anemia pada ibu hamil, yaitu :
1)
Anemia
ringan
Kelelahan, detak jantung meningkat, penurunan perfusi
jaringan, ekstraksi O2 jaringan meningkat.
2)
Anemia
sedang
Fatig, sulit konsentrasi, detak jantung > 100/m,
berdebar, dispnoe pada aktivitas, pucat.
3)
Anemia
berat
Fatig, depresi, gangguan tidur, dispnoe pada istirahat,
vertigo.
Menurut
Tarwoto (2007) tanda gejala anemia secara umum adalah pucatpada mata, cepat
lelah, sering pusing dan sakit kepala, sering terjadi kram pada kaki, terjadi
sariawan, peradangan gusi, pada pemeriksaan hemoglobin < 9,5 gr% dan tekanan
darah menurun.
g.
Pengaruh anemia terhadap
kehamilan.
Menurut
Nugraheny (2010) pengaruh anemia terhadap kehamilan dapat menimbulkan berbagai
masalah berikut :
1)
Saat hamil
a)
Tumbuh kembang janin
terlambat.
b)
Abortus.
c)
Persalinan prematur.
d)
Tumbuh kembang janin dalam
rahim terhambat.
e)
Perdarahan antepartum.
f)
Ketuban pecah dini (KPD).
2)
Saat persalinan
a)
Persalinan berlangsung lama.
b)
Sering terjadi fetal
distress.
c)
Terjadi emboli air ketuban.
d)
Atonia uteri.
e)
Retensio placenta.
3)
Saat postpartum
a)
Terjadi perdarahan
postpartum.
b)
Mudah terjadi infeksi
puerperium.
c)
Dapat terjadi retensio
plasenta.
d)
Anemia kala nifas.
e) Bayi
lahir dengan anemia.
h. Penanggulangan
anemia.
Menurut Ratna Dewi Pudiastuti (2012) Penanggulangan
anemia pada ibu hamil yaitu :
1) Makan tablet tambah darah sehari 1
tablet/minimal 90 tablet selama hamil
2) Makan yang banyak mengandung zat besi misalnya
daging, sayuran hijau seperti bayam, daun singkong, kangkung, kacang-kacangan dan
lain-lain.


Makanan yang dianjurkan untuk ibu hamil
agar tidak terkena anemia yaitu :
a) Kehamilan
triwulan I
Beri
makan porsi kecil tapi sering, makanan yang segar-segar contohnya susu, sop,
buah-buahan, biscuit dan lain-lain.
b) Kehamilan
triwulan II
Meningkatkan
makanan zat tenaga seperti nasi, roti, mie dan meningkatkan makanan zat pembangun
berupa lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan buah.
c) Kehamilan
triwulan III
Jumlah
makanan yang dibutuhkan sama dengan kehamilan triwulan II dan minum tablet
tambah darah 1 butir perhari (minimal 90 butir selama hamil) (Ratna Dewi
Pudiastuti, 2012).
i.
Penatalaksanaan anemia.
Menurut Tarwoto (2007) penatalaksanaan anemia yaitu :
1) Pada
saat kunjungan awal, kaji riwayat pasien. Telusuri riwayat anemia dan kaji
riwayat keluarga.
2) Pastikan
tanda dan gejala anemia yang terjadi pada ibu hamil
3) Makan-makanan
yang banyak mengandung zat besi, asam folat.
4) Makan
yang cukup, dua kali lipat dari pola makan sebelum hamil.
5) Konsumsi
vitamin C yang lebih banyak.
6) Hindari
atau kurangi minum kopi dan teh,
7) Hindari
penggunaan alcohol dan obat-obatan/zat penenang.
8) Minum
suplemen zat besi (sulfa ferrosus) 90 tablet selama kehamilan.
9) Hindari
aktivitas yang berat.
10) Istirahat
yang cukup.
11) Ukur
tekanan darah.
12) Periksalah
Hb pada tempat pelayanan kesehatan.
J.
Terapi pada anemia menurut
Purwita W. Laksmi (2008) :
1)
Terapi pencegahan
a) Fe
dosis rendah 30 mg.
b) Feritin
≥ 20 ug/L.
2) Ibu
hamil dengan anemia defisiensi memerlukan :
a)
Fe
sulfat 325 mg
b)
Pemberian
folat 1 mg perhari
3) Nasehat
a)
Banyak
makan buah dan sayuran yang berwarna hijau.
b) Lebih
banyak istirahat.
c) Meningkatkan
jumlah porsi makan lebih dari sebelum hamil.
d) Mengenali
tanda-tanda anemia.
e) Segera
periksa apabila terjadi mata berkunang-kunang, gangguan tidur, vertigo,
berdebar,pucat, lesu, sulit konsentrasi.
4)
Jadwal pemeriksaan hamil dipercepat dan diperketat
Untuk memasukkan penderita ke rumah sakit atau merujuk penderita perlu
memperhatikan hal berikut :
a) Bila
kadar Hb kurang dari 8gr%.
b) Vertigo.
c)
Mata
berkunang-kunang.
d)
Detak
jantung > 100/m.

