Minggu, 04 Mei 2014

PLASENTA PREVIA


a.  Pengertian
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat yang abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. (Lily Yulaikhah,2009).
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. (Sarwono, 2006).
Menurut Prawiroharjo (2009) plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
b.  Klasifikasi
Plasenta previa d klasifikasikan menurut hubungan plasenta terhadap pembukaan servik bagian dalam :
I.       Plasenta previa totalis, yaitu pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium uteri. 
II.      Plasenta previa partialis, yaitu jika pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta

III.    Plasenta previa marginalis, yaitu jika sebagian kecil atau hanya pinggiran ostium yang ditutupi oleh plasenta.
IV.   Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2cm dari ostium uteri internum.
c.  Etiologi
Plasenta previa mungkin terjadi kalau keadaan endometrium kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium. Keadaan ini misalnya terdapat pada :
1.    Multipara, terutama dengan jarak antara kehamilan pendek
2.    Myoma uteri
3.    Curretage yang berulang
4.    Primigravida tua lebih dari 25 tahun
5.    Bekas operasi
d.  Penyebab terjadinya plasenta previa.
Yaitu :
1.  Perdarahan
2.  Usia lebih dari 35 tahun
3.  Multiparitas
4.  Riwayat operasi
5.  Keguguran berulang
6.  Status sosial ekonomi yang rendah
Plasenta previa dapat terjadi pada semua tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan menengah kebawah, hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya.
7.  Jarak antara kehamilan yang pendek
8.  Merokok
e.  Faktor risiko
Berikut ini adalah beberapa faktor risiko dari plasenta previa :
a.    Hamil pada usia tua
Usia ibu yang lanjut dapat meningkatkan risiko plasenta previa. Pada dua kelompok usia, insidennya adalah 1 dari 1500 untuk wanita berusia 19 tahun atau kurang, dan 1 dari 100 untuk wanita yang berusia 35 tahun keatas.
Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20 tahun. Hasil penelitian terdahulu menyatakan usia wanita produktif yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan bertambahnya usia ibu, terutama pada usia 35 tahun ke atas (Sheiner et al, 2001; Wardana, Karkata, 2007).
b.  Multiparitas
Multiparitas dilaporkan berkaitan dengan plasenta previa. Dari 314 wanita para 5 atau lebih, dilaporkan bahwa insiden plasenta previa 2,2 persen dan meningkat drastis dibandingkan dengan wanita dengan para yang lebih rendah. Kejadian plasenta previa 3 kali lebih sering pada wanita multipara dibandingkan pada wanita primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau. Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannya sehingga menutupi pembukaan jalan lahir (Cunningham et al, 2005; Sumapraja, 2005).
c.    Riwayat Seksio Cesarea
Riwayat seksio cesarea meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa. Dari hasil penelitian sebelumnya, sebanyak 52% plasenta previa ditemukan pada wanita dengan riwayat seksio sesarea. Beberapa studi lain telah mengobservasi bahwa peningkatan frekuensi plasenta previa pada wanita dengan riwayat seksio sesarea atau abortus berhubungan dengan prosedur pembedahan yang merusak rongga uterus, sehingga menyebabkan plasenta berimplantasi ditempat yang lebih rendah (Ananth et al, 2003; Malik et al, 2007).
d.  Riwayat Abortus
Berdasarkan studi sebelumnya, ditemukan bahwa insidensi plasenta previa meningkat sesuai jumlah abortus sebelumnya. Insidensi plasenta previa sebesar 0,32% pada wanita 1 kali abortus, dan 2,48% pada mereka yang 4 kali abortus sebelumnya. Studi lain menyebutkan bahwa wanita dengan riwayat abortus ≥ 2 kali, 2,1 kali lebih berisiko untuk terjadi plasenta previa (Johnson et al, 2002; Wardana, Karkata, 2007).
f.    Patofisiologi
Letak plasenta normal umumnya didepan atau dibelakang dinding uterus agak ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Ditempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena yang melebar (sinus) untuk menampung darah kembali.
Insiden plasenta previa meningkat seiring dengan meningkatnya paritas dan umur, serta riwayat partus perabdominal. Hal ini berhubungan dengan vaskularisasi korpus endometrium yang berkurang, plasenta yang besar, bentuk abnormal dari plasenta. Risiko terjadinya plasenta previa lebih besar bila terdapat plasenta yang besar pada multigravida. Bekas seksio sesarea meningkatkan insiden plasenta previa tiga kali lipat (Martaadisoebrata, 2005).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan mendekati dan menutupi ostium uteri internum. Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa plasenta previa lebih sering pada wanita multipara dikarenakan jaringan parut uterus akibat kehamilan berulang. Jaringan parut ini menyebabkan tidak adekuatnya persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup daerah uterus yang lebih luas sehingga konsekuensinya adalah risiko penutupan ostium uteri internum akan meningkat. Selain itu, plasenta yang berimplantasi rendah terjadi karena endometrium bagian fundus belum siap menjadi tempat implantasi pada kehamilan yang sering.
g.  Gejala Klinis
Key (2003) menyebutkan bahwa gejala plasenta previa mencakup satu atau kedua hal berikut :
a.  Tiba-tiba tanpa rasa sakit perdarahan vagina yang berkisar ringan sampai berat. Darah berwarna merah segar, perdarahan umumnya terjadi pada trimester ketiga.
b.  Gejala persalinan premature. Satu dari lima wanita dengan tanda –tanda plasenta previa juga memiliki kontraksi rahim.
Perdarahan plasenta previa mungkin tapper off dan bahkan berhenti untuk sementara. Tetapi hampir selalu dimulai lagi hari atau minggu kemudian. Beberapa wanita dengan plasenta previa tidak memiliki gejala apapun.
Apabila letak janin presentasi kepala maka kepalanya didapatkan belum masuk ke dalam pintu atas panggul dan tidak jarang pula terjadi kelainan letak seprti letak lintang dan letak sungsang (Cunningham et al, 2005).

h.  Diagnosis
a.    Anamnesis
Pada anamnesis dapat dinyatakan beberapa hal yang berkaitan dengan perdarahan antepartum seperti umur kehamilan saat terjadinya perdarahan, apakah ada rasa nyeri, warna dn bentuk perdarahan, frekuensi serta banyaknya perdarahan. Perdarahan jalan lahir tanpa rasa nyeri pada trimester ketiga harus dicurigai adanya plasenta previa (Wiknojosastro, 2007).
b.    Pemeriksaan fisik
1)    Inspeksi : dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam, warna perdarahannya merah segar, banyak atau sedikit, darah beku dan sebagainya.
2)    Palpasi : janin masih belum aterem, jadi fundus uteri masih rendah, sering dijumpai kesalahan letak janin, apabila bagian terbawah janin adalah kepala, biasanya kepala belum masuk panggul sehingga masih dapat digoyangkan (Sheiner, 2007).
3)    Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri  atau dari kelainan serviks dan vagina. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri ekternum dicurigai adanya plasenta previa.
c.    Pemeriksaan penunjang
Menegakkan diagnosis plasenta previa dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janin serta tidak terasa nyeri. USG abdomen selama trimester kedua menunjukkan penempatan plasenta previa. Transvaginal ultrasonografi dengan keakuratan 100% sedangkan identifikasi plasenta transabdominal ultrasonografi berkisar 95%. Dengan USG dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium (Cunningham et al, 2005 ; Miller, 2009).
i.    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan plasenta previa menurut Scearce (2007) adalah sebagai berikut :
a.  Terapi Ekspektatif (pasif)
Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak lahir prematur, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servikalis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasive. Pemantauan klinis dilakukan secara ketat dan baik. Syarat-syarat terapi ekspektatif antara lain :
1.  Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit kemudian berhenti.
2.  Belum ada tanda-tanda inpartu.
3.  Keadaan umum ibu cukup baik (kadar Hb masih dalam batas normal).
4.  Keadaan janin masih hidup.
b.  Terapi Aktif
Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin. Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa :
1.  Seksio sesarea
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tidak punya harapan untuk hidup tindakan ini tetap dilakukan. Indikasi diadakan seksio sesarea antara lain :
a.  Semua plasenta previa totalis
b.  Plasenta previa parsialis pada primigravida
c.  Perdarahan yang banyak dan berulang
d.  Plasenta previa dengan letak lintang atau sungsang
2.  Pervaginam
Indikasi dilakukan kelahiran pervaginam adalah pada plasenta previa parsial dengan multigravida dengan pembukaan 5cm, plasenta previa marginalis, plasenta previa letak rendah. Prinsipnya perdarahan akan berhenti apabila ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.  Amniotomi atau akselerasi
Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis atau marginalis dengan pembukaan lebih dari 3cm. Serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan kepala janin akan turun sehingga plasenta akan tertekan oleh kepala dan perdarahan dapat berhenti. Apabila kontrakti uterus belum ada atau masih lemah maka akselerasi dengan infuse oksitosin.
b.    Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Braxton Hicks ialah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong (dengan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.
c.    Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan cunam willet, kemudian beri beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan seringkali dapat menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini dilakukan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan tidak aktif
j.    Prognosis
Mortalitas perinatal kurang dari 50 per 1000, kematian janin disebabkan karena hipoksia. Setelah lahir dapat terjadi perdarahan post partum karena trofoblas menginvasi segmen bawah rahim. Apabila perdarahan tidak dapat dihentikan maka dilakukan histerektomi (Cunningham, 2006 dan Jones 2002).



k.  Komplikasi
a.  Syok
Pembentukan segmen rahim yang secara ritmik dapat terjadi pelepasan plasenta dari tempat inersinya lalu terjadi perdarahan yang tidak dapat dicegah berulang kali sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok (Hanifah, 2004).
b.  Plasenta akreta dan inkreta
Perlengketan plasenta yang terlalu kuat diperkirakan terjadi apabila desidua di segmen bawah rahim dan sifat segmen ini yang tipis maka dengan mudah jaringan trofoblas menginvasi kedalam miometrium bahkan ke perimetrium dan menjadi plasenta akreta dan inakreta. Walaupun biasanya tidak seluruh permukaan maternal dari plasenta mengalami inkreta akan tetapi dengan demikian terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbullah perdarahan dalam kala 3.
c.   Persalinan prematur
Apabila pada kasus plasenta previa perdarahan yang terjadi tidak terlalu banyak, ibu hamil dapat dirawat. Peluang kehamilan berlanjut sampai usia kehamilan cukup bulan masih terbuka. Tetapi apabila perdarahan banyak sekali, terpaksa harus dilakukan operasi Caesar dengan konsekuensi bayi lahir premature (Hanafiah, 2004).

TROMBOFLEBITIS


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian
            Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan atau invasi mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cabang-cabangnya sehingga terjadi tromboflebitis (YBP-SP, 2002).
            Tromboflebitis adalah suatu peradangan pada vena. Istilah trombosis vena lebih sering diartikan sebagai suatu keadaan penggumpalan darah yang terbentuk di dalam pembuluh darah, sedangkan tromboflebitis diartikan sebagai inflamasi yang menyertai terhadap adanya suatu penjendalan. Plebotrombosis adalah trombus yang merupakan faktor yang mempermudah terjadinya inflamasi (DepKes RI, 1990).
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan keopala janin gelana kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).

B.     Klasifikasi
1.      Pelviotromboflebitis/ tromboflebitis pelvis
Pelviotromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipogastrika. Vena yang paling terkena ialah vena ovarika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak dibagian atasa uterus; proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika sinistra ialah ke vena renalis, sedang perluasan dari vena ovarika dekstra ialah ke vena kava inferior. Peritoneum, yang menutupi vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan periapendisitis. Perluasan infeksi dari vena uterina ialah ke vena iliaka komunis.


Penilaian klinik:
a.       Nyeri, yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke 2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
b.      Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:
1)      Menggigil berulang kali. Menggigil inisial terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja kadang-kadang 3 hari. Pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
2)      Suhu badan naik turun secara tajam (36°C menjadi 40°C), yang diikuti dengan penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis).
3)      Penyakit dapat berlangsung selama 1-3 bulan.
4)      Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama keparu-paru.
c.       Gambaran darah:
1)      Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia).
2)      Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya menggigil. Meskipun bakteri ditemukan di dalam darah selama menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
3)      Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena ialah vena ovarika, yang sukar dicapai pada pemeriksaan dalam.

Komplikasi
a.       Komplikasi pada paru-paru: infark, abses, pneumonia.
b.      Komplikasi pada ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang diikuti dengan proteinuria dan hematuria.
c.       Komplikasi pada persendian, mata dan jaringan subkutan.

Penanganan
a.       Rawat inap
Penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakitnya dan mencegah terjadinya emboli pulmonum.

b.      Terapi medik
Pemberian antibiotika dan heparin jika terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum.
c.       Terapi operatif
Pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru, meskipun sedang dilakukan heparinisasi.

2.      Tromboflebitis femoralis (flegmasia alba dolens)
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena femoralis, vena poplitea, dan vena safena.
Penilaian klinik:
a.       Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke 10-20, yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
b.      Pada salah satu kaki yang terkena biasanya kaki kiri, akan memeberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1)      Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke luar serta sukar bergerak, lebih panas dibanding dengan kaki lainnya.
2)      Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas.
3)      Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
4)      Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin, dan pulsasi menurun.
5)      Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau setelah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki, kemudian meluas dari bawah ke atas.
6)      Nyeri pada betis, yang dapat terjadi spontan atau dengan memijit betis atau dengan meregangkan tendo akhiles (tanda Homan).





Penanganan
a.       Perawatan.
Kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, lakukan kompresi pada kaki. Setelah mobilisasi kaki hendaknya tetap dibalut elastik atau memakai kaos kaki panjang yang elastik selama mungkin.
b.      Mengingat kondisi ibu yang sangat jelek, sebaiknya jangan menyusui.
c.       Terapi medik: pemberian antibiotika dan analgetika.

C.    Etiologi

1.      Perluasan infeksi endometrium
2.      Mempunyai varises pada vena
3.      Obesitas
4.      Pernah mengalami tramboflebitis
5.      Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi stir up untuk waktu yang lama
6.      Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga. (Adele Pillitteri, 2007)

D.    Patofisiologi
            Formasi trombus merupakan akibat dari statis vena, gangguan koagulabilitas darah atau kerusakan pembuluh maupun endotelial.
            Stattis vena lazim dialami oleh orang-orang imobil maupun yang istirahat di tempat tidur dengan gerakan otot yang tidak memadai untuk mendorong aliran darah. Statis vena juga mudah terjadi pada orang yang berdiri terlalu lama, duduk dengan lutut dan paha ditekuk, berpakaian ketat, obesitas, tumor maupun wanita hamil.
            Hiperkoagulabilitas darah yang menyertai trauma, kelahiran dan myocardial infret juga mempermudah terjadinya trombosis. Infus intravena, kanulasi atau beberapa penyakit misalnya penyakit buerger juga dapat menyokong trombus.

E.     Pengkajian
            Perlu mengkaji terhadap masalah yang mungkin timbul akibat statis vena terutama pada klien sehabis pembedahan atau dalam keadaan imobil. Tanda-tanda dan symptom tergantung pada lokasi vena yang terkena. Tromboflebitis pada vena superfisial ditandai dengan vena yang kemerah-merahan, panas, nyeri tekan, dan serba keras. Biasanya disertai dengan demam. Tromboflebitis pada vena yang lebih dalam pada kaki ditandai dengan oedema, bengkak, nyeri, kemerah-merahan dan panas. Diagnosa ditegakkan bedasarkan tanda/riwayat klinis, venografi, ultrasound, Doppler flow study, atau pletimografi.

F.     Perencanaan dan pelaksanaan
            Rencana dikembangkan untuk mencegah pembentukan trombus, perawat dan klien membuat rencana pada waktu preoperasi untuk mencegah gangguan akibat statis dan imobilitas. Ini meliputi latihan aktif dan pasif, pemakaian stocking, ambulasi secara dini jika memungkinkan. Dalam hal ini, lutut dicegah supaya tidak menekuk.
            Pembentukan trombus dapat dicegah dengan pemberian heparin dosis rendah, (5000 IU) tiap 8 jam selama 7 hari (Chamberlain, 1980). Terapi heparin dosis rendah merupakan kontraindikasi sesudah operasi tulang atau pinggul, prostatectomy abdominal, atau pembedahan otak. Heparin dapat diberikan secara subcutan pada jaringan lemak dinding abdomen bagian bawah atau diatas krista iliaka. Heparin disuntikan dengan sudut 90 derajat. Perawat dianjurkan tidak melakukan aspirasi ketika memberikan heparin, karena dapat menyebabkan hematoma. Tempat penyuntikan di massase setelah jarum dicabut tetapi bisa di tekan pelan menggunakan  kapas alkohol. Jika heparin diberikan dalam jangka waktu lama, maka dapat melalui infus. Tempat penusukan jarum infus harus diamati terhadap adanya peradangan. Jika terjadi trombosis maka rencana perawatan perlu dikembangkan untuk mengurangi radang, mencegah emboli dan mengurangi sakit.
            Radang dapat dikurangi dengan rendam hangat. Kehangatan akan melebarkan vena dan meningkatkan sirkulasi korateral. Hal ini merupakan pendekatan yang berguna tromboflebitis superfisial yang disebabkan oleh infus. Beberapa dokter menyatakan bahwa penggunaan panas untuk dilatasi pembuluh darah dapat menyokong emboli, sehingga dianjurkan menggunakan es.
            Peradangan vena merupakan predisposisi terhadap terjadinya embolus, baik emboli koroner maupun pulmoner. Untuk mencegah bahaya ini, pasien harus bedrest, dokter kadang-kadang memesankan agar ada bagian yang ditinggikan untuk mencegah pembendungan vena. Klien istirahat ditempat tidur yang tenang, dan menghindari aktifitas yang menyebabkan peningkatan venous return misalnya batuk dan tegang. Kaos kaki elastis atau verban elastis dapat dipakai untuk meningkatkan venous return.
            Untuk mencegah pelebaran atau penggumpalan, dapat diberikan antikoagulan. Heparin atau warfarin (coumadin) dapat diberikan sebagai profilaksis maupun pengobatan. Heparin dapat diberikan secara intravena, intramuskular, atau subkutan. Bahaya efek samping penggunaan heparin adlah perdarahan. Perawat harus mengamati adanya tanda awal perdarahan antara lain hematurui dan bruishing. Waktu pembekuan (clothing time) diperiksa secara teratur dan klien tidak boleh menggunakan pisau cukur secara langsung atau sikat gigi yang keras. Dosis heparin yang diberikan sesuai kebutuhan. Protamine sulfat adalah antidotum untuk heparin.
            Derifat coumarin seperti dicumarol, walfarin (coumadin) dan phenindion (Hedulin) adalah antikoagulan yang memiliki masa aktif lebih lama serta berpengaruh terhadap pada pembentukan protombin. Banyak obat-obatan yang berinteraksi terhadap coumarin seperti aspirin, phenothiazines, dan antihistamin, untuk ini klien perlu diperiksa secara teratur untuk mengetahui keefektifan dosis antikoagulan. Vitamin K (Mephyton) merupakan antidotum terhadap Coumarin.
            Obat-obatan vasodilatator mungkin diberikan untuk mengurangi spasmus pembuluh darh yang mengalami pembentukan trombus. Obat-obatan ini meningkatkan sirkulasi serta mempercepat absorbsi trombus.
            Pada beberapa keadaan aktivator sistem enzim fibrinolitik alamiah, streptokinase, dan urokinase diberikan secara infus intravena. Obat-obatan ini mencegah kerusakan DVT dengan proses lisis trombus dan mungkin penurunan viskositas plasma dan cenderung mengurangi sel-sel darah merah. Komplikasi utama dari tepi adalah terjadinya perdarahan, untuk itu obat-obatan tersebut tidak dianjurkan bagi klien setelah mendapat tindakan pembedahan, myocardial yang tidak sembuh, atau trombus serebi. Apabila tindakan konservatif tidak dapat mengatasi penyakit tromboemboli, maka dapat dikerjakan tindakan pembedahan.
            Untuk mengatasi rasa nyeri, maka diberikan analgetika. Aspirin atau obat-obatan yang mengandunga spirin biasanya tidak diberikan, karena berpengaruh terhadap platelet dan dosis heparin. Bedrest dapat mengurangi nyeri, tetapi selama bedrest, perawat harus membantu klien merubah posisi dan memberikan tindakan untuk memenuhi rasa nyaman klien.
            Bila kondisi telah membaik, pasien dipersiapkan pulang., dan dianjurkan untuk menghindari keadaan-keadaan yang menurunkan mobilitas, kontriksi sirkulasi dan perlukaan.
           
G.    Evaluasi
            Hasil yang diharapkan adalah agar klien dan atau keluarga dapat:
1.      Menjelaskan penyakit tromboemboli.
2.      Menjelaskan rencana-rencana untuk mempertahankan kesehatan:
a.       Aktivitas: latihan; mencegah berdiri menekuk kaki sewaktu duduk.
b.      Meningkatkan sirkulasi vena dengan pemasukan cairan tang adekuat, tidak mengenakan pakaian yang ketat, mempertahankan berat badan yang normal, menggunakan stocking antiemboli.
3.      Menjelaskan kegunaan, dosis, waktu, cara memakai, dan efek samping obat yang diberikan (antikoagulan).
4.      Menjelaskan indikasi perawatan kesehatan dan rencana perawatan lanjutan (follow up).













Daftar Pustaka
Sitti Saleha. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika.
------. 1990. Buku Pegangan Guru Pendidikan Diploma III Keperawatan. DepKes RI.
Saifuddin. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.