a. Pengertian
Plasenta
previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat yang abnormal
yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium
uteri internum. (Lily Yulaikhah,2009).
Plasenta
previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi
sebagian atau seluruh ostium uteri internum. (Sarwono, 2006).
Menurut
Prawiroharjo (2009) plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada
segmen bawah rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium
internum.
b. Klasifikasi
Plasenta
previa d klasifikasikan menurut hubungan plasenta terhadap pembukaan servik
bagian dalam :
I. Plasenta previa totalis,
yaitu pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium uteri.
II.
Plasenta previa partialis, yaitu jika pada
pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta
III.
Plasenta previa marginalis, yaitu jika
sebagian kecil atau hanya pinggiran ostium yang ditutupi oleh plasenta.
IV.
Plasenta letak rendah adalah plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya
berada pada jarak lebih kurang 2cm dari ostium uteri internum.
c.
Etiologi
Plasenta previa mungkin terjadi kalau keadaan endometrium
kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium. Keadaan ini misalnya terdapat
pada :
1. Multipara, terutama dengan jarak antara kehamilan pendek
2. Myoma uteri
3. Curretage yang berulang
4. Primigravida tua lebih dari 25 tahun
5. Bekas operasi
d.
Penyebab terjadinya plasenta previa.
Yaitu :
1. Perdarahan
2. Usia lebih dari 35 tahun
3. Multiparitas
4. Riwayat operasi
5. Keguguran berulang
6. Status sosial ekonomi yang rendah
Plasenta previa dapat terjadi pada semua
tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan menengah kebawah, hal
ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya.
7. Jarak antara kehamilan yang pendek
8. Merokok
e. Faktor risiko
Berikut ini adalah beberapa faktor risiko dari plasenta
previa :
a. Hamil
pada usia tua
Usia
ibu yang lanjut dapat meningkatkan risiko plasenta previa. Pada dua kelompok
usia, insidennya adalah 1 dari 1500 untuk wanita berusia 19 tahun atau kurang,
dan 1 dari 100 untuk wanita yang berusia 35 tahun keatas.
Risiko
plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar pada perempuan di atas usia 35
tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20 tahun. Hasil penelitian
terdahulu menyatakan usia wanita produktif yang aman untuk kehamilan dan
persalinan adalah 20-35 tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan
bertambahnya usia ibu, terutama pada usia 35 tahun ke atas (Sheiner et al,
2001; Wardana, Karkata, 2007).
b. Multiparitas
Multiparitas
dilaporkan berkaitan dengan plasenta previa. Dari 314 wanita para 5 atau lebih,
dilaporkan bahwa insiden plasenta previa 2,2 persen dan meningkat drastis
dibandingkan dengan wanita dengan para yang lebih rendah. Kejadian plasenta
previa 3 kali lebih sering pada wanita multipara dibandingkan pada wanita
primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang
berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau.
Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannya sehingga
menutupi pembukaan jalan lahir (Cunningham et al, 2005; Sumapraja, 2005).
c. Riwayat
Seksio Cesarea
Riwayat
seksio cesarea meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa. Dari hasil
penelitian sebelumnya, sebanyak 52% plasenta previa ditemukan pada wanita
dengan riwayat seksio sesarea. Beberapa studi lain telah mengobservasi bahwa
peningkatan frekuensi plasenta previa pada wanita dengan riwayat seksio sesarea
atau abortus berhubungan dengan prosedur pembedahan yang merusak rongga uterus,
sehingga menyebabkan plasenta berimplantasi ditempat yang lebih rendah (Ananth
et al, 2003; Malik et al, 2007).
d. Riwayat
Abortus
Berdasarkan
studi sebelumnya, ditemukan bahwa insidensi plasenta previa meningkat sesuai
jumlah abortus sebelumnya. Insidensi plasenta previa sebesar 0,32% pada wanita
1 kali abortus, dan 2,48% pada mereka yang 4 kali abortus sebelumnya. Studi
lain menyebutkan bahwa wanita dengan riwayat abortus ≥ 2 kali, 2,1 kali lebih
berisiko untuk terjadi plasenta previa (Johnson et al, 2002; Wardana, Karkata,
2007).
f.
Patofisiologi
Letak
plasenta normal umumnya didepan atau dibelakang dinding uterus agak ke arah
fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus
uteri lebih luas sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Ditempat
tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena yang melebar (sinus) untuk
menampung darah kembali.
Insiden
plasenta previa meningkat seiring dengan meningkatnya paritas dan umur, serta
riwayat partus perabdominal. Hal ini berhubungan dengan vaskularisasi korpus
endometrium yang berkurang, plasenta yang besar, bentuk abnormal dari plasenta.
Risiko terjadinya plasenta previa lebih besar bila terdapat plasenta yang besar
pada multigravida. Bekas seksio sesarea meningkatkan insiden plasenta previa
tiga kali lipat (Martaadisoebrata, 2005).
Keadaan
endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh menjadi luas
untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan mendekati dan
menutupi ostium uteri internum. Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa plasenta
previa lebih sering pada wanita multipara dikarenakan jaringan parut uterus
akibat kehamilan berulang. Jaringan parut ini menyebabkan tidak adekuatnya
persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup
daerah uterus yang lebih luas sehingga konsekuensinya adalah risiko penutupan
ostium uteri internum akan meningkat. Selain itu, plasenta yang berimplantasi
rendah terjadi karena endometrium bagian fundus belum siap menjadi tempat
implantasi pada kehamilan yang sering.
g. Gejala Klinis
Key
(2003) menyebutkan bahwa gejala plasenta previa mencakup satu atau kedua hal
berikut :
a. Tiba-tiba
tanpa rasa sakit perdarahan vagina yang berkisar ringan sampai berat. Darah
berwarna merah segar, perdarahan umumnya terjadi pada trimester ketiga.
b. Gejala
persalinan premature. Satu dari lima wanita dengan tanda –tanda plasenta previa
juga memiliki kontraksi rahim.
Perdarahan
plasenta previa mungkin tapper off dan bahkan berhenti untuk sementara. Tetapi
hampir selalu dimulai lagi hari atau minggu kemudian. Beberapa wanita dengan
plasenta previa tidak memiliki gejala apapun.
Apabila
letak janin presentasi kepala maka kepalanya didapatkan belum masuk ke dalam
pintu atas panggul dan tidak jarang pula terjadi kelainan letak seprti letak
lintang dan letak sungsang (Cunningham et al, 2005).
h. Diagnosis
a. Anamnesis
Pada anamnesis dapat dinyatakan beberapa hal yang
berkaitan dengan perdarahan antepartum seperti umur kehamilan saat terjadinya perdarahan,
apakah ada rasa nyeri, warna dn bentuk perdarahan, frekuensi serta banyaknya
perdarahan. Perdarahan jalan lahir tanpa rasa nyeri pada trimester ketiga harus
dicurigai adanya plasenta previa (Wiknojosastro, 2007).
b. Pemeriksaan
fisik
1) Inspeksi
: dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam, warna perdarahannya merah
segar, banyak atau sedikit, darah beku dan sebagainya.
2) Palpasi
: janin masih belum aterem, jadi fundus uteri masih rendah, sering dijumpai
kesalahan letak janin, apabila bagian terbawah janin adalah kepala, biasanya
kepala belum masuk panggul sehingga masih dapat digoyangkan (Sheiner, 2007).
3) Pemeriksaan
inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri atau dari kelainan serviks dan vagina.
Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri ekternum dicurigai adanya plasenta
previa.
c. Pemeriksaan
penunjang
Menegakkan diagnosis
plasenta previa dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Penentuan letak
plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya
radiasi bagi ibu dan janin serta tidak terasa nyeri. USG abdomen selama
trimester kedua menunjukkan penempatan plasenta previa. Transvaginal
ultrasonografi dengan keakuratan 100% sedangkan identifikasi plasenta
transabdominal ultrasonografi berkisar 95%. Dengan USG dapat ditentukan
implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium (Cunningham et al,
2005 ; Miller, 2009).
i.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan plasenta previa menurut Scearce (2007)
adalah sebagai berikut :
a. Terapi
Ekspektatif (pasif)
Tujuan terapi
ekspektatif adalah supaya janin tidak lahir prematur, penderita dirawat tanpa
melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servikalis. Upaya diagnosis
dilakukan secara non invasive. Pemantauan klinis dilakukan secara ketat dan
baik. Syarat-syarat terapi ekspektatif antara lain :
1. Kehamilan
preterm dengan perdarahan sedikit kemudian berhenti.
2. Belum
ada tanda-tanda inpartu.
3. Keadaan
umum ibu cukup baik (kadar Hb masih dalam batas normal).
4. Keadaan
janin masih hidup.
b. Terapi
Aktif
Wanita hamil diatas
22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera
ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin. Cara menyelesaikan
persalinan dengan plasenta previa :
1. Seksio
sesarea
Prinsip
utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga
walaupun janin meninggal atau tidak punya harapan untuk hidup tindakan ini
tetap dilakukan. Indikasi diadakan seksio sesarea antara lain :
a. Semua
plasenta previa totalis
b. Plasenta
previa parsialis pada primigravida
c. Perdarahan
yang banyak dan berulang
d. Plasenta
previa dengan letak lintang atau sungsang
2. Pervaginam
Indikasi
dilakukan kelahiran pervaginam adalah pada plasenta previa parsial dengan
multigravida dengan pembukaan 5cm, plasenta previa marginalis, plasenta previa
letak rendah. Prinsipnya perdarahan akan berhenti apabila ada penekanan pada
plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Amniotomi
atau akselerasi
Umumnya dilakukan pada plasenta previa
lateralis atau marginalis dengan pembukaan lebih dari 3cm. Serta presentasi
kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan
kepala janin akan turun sehingga plasenta akan tertekan oleh kepala dan
perdarahan dapat berhenti. Apabila kontrakti uterus belum ada atau masih lemah
maka akselerasi dengan infuse oksitosin.
b. Versi
Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Braxton Hicks
ialah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong (dengan kaki) janin. Versi
Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.
c. Traksi
dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan cunam
willet, kemudian beri beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini
kurang efektif untuk menekan plasenta dan seringkali dapat menyebabkan
perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini dilakukan pada janin yang telah
meninggal dan perdarahan tidak aktif
j.
Prognosis
Mortalitas perinatal kurang dari 50 per 1000, kematian
janin disebabkan karena hipoksia. Setelah lahir dapat terjadi perdarahan post
partum karena trofoblas menginvasi segmen bawah rahim. Apabila perdarahan tidak
dapat dihentikan maka dilakukan histerektomi (Cunningham, 2006 dan Jones 2002).
k. Komplikasi
a. Syok
Pembentukan segmen
rahim yang secara ritmik dapat terjadi pelepasan plasenta dari tempat inersinya
lalu terjadi perdarahan yang tidak dapat dicegah berulang kali sehingga
penderita menjadi anemia bahkan syok (Hanifah, 2004).
b. Plasenta
akreta dan inkreta
Perlengketan plasenta
yang terlalu kuat diperkirakan terjadi apabila desidua di segmen bawah rahim
dan sifat segmen ini yang tipis maka dengan mudah jaringan trofoblas menginvasi
kedalam miometrium bahkan ke perimetrium dan menjadi plasenta akreta dan
inakreta. Walaupun biasanya tidak seluruh permukaan maternal dari plasenta
mengalami inkreta akan tetapi dengan demikian terjadi retensio plasenta dan
pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbullah perdarahan dalam kala 3.
c. Persalinan
prematur
Apabila pada kasus
plasenta previa perdarahan yang terjadi tidak terlalu banyak, ibu hamil dapat
dirawat. Peluang kehamilan berlanjut sampai usia kehamilan cukup bulan masih
terbuka. Tetapi apabila perdarahan banyak sekali, terpaksa harus dilakukan
operasi Caesar dengan konsekuensi bayi lahir premature (Hanafiah, 2004).

.jpg)